Ratusan Siswa SD dan SMP Meriahkan FTBI Barito Selatan, Permana Sari: Bahasa Ibu Harus Dijaga dari Ancaman Kepunahan

BUNTOK – Ratusan siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Provinsi Kalimantan Tengah, yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Selatan pada 29–30 Oktober 2026. Kegiatan berlangsung di Aula Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Kamis (29/10/2026).

Festival tersebut dibuka langsung Ketua TP PKK Kabupaten Barito Selatan sekaligus Bunda Literasi dan Bunda PAUD, Dr. Hj. Permana Sari, S.Si., M.M., MBA. Pembukaan turut dihadiri Bupati Barito Selatan Dr. Eddy Raya Samsuri, S.T., M.M., serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Barito Selatan.

Keikutsertaan ratusan pelajar dalam festival ini menjadi bukti pentingnya menghadirkan ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan mencintai bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

FTBI tidak sekadar menjadi ajang perlombaan dan unjuk kemampuan siswa, tetapi juga merupakan langkah nyata dalam memperkuat pelestarian bahasa ibu agar tetap hidup dan digunakan oleh generasi penerus.

Dalam sambutannya, Hj. Permana Sari menegaskan bahwa seluruh pihak yang terlibat harus memiliki pemahaman dan komitmen yang sama dalam menjaga warisan bahasa ibu.

"Diharapkan semua pihak yang terlibat dalam Festival Tunas Bahasa Ibu dapat memiliki pemahaman yang seragam dan mampu melestarikan warisan bahasa ibu, sekaligus menjaga jati diri bangsa kepada anak-anak kita," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa bahasa ibu merupakan warisan budaya yang sangat berharga. Melalui bahasa daerah, masyarakat dapat mengenal sejarah, adat istiadat, nilai-nilai luhur, serta identitas yang diwariskan secara turun-temurun.

Namun, perkembangan zaman dan pesatnya kemajuan teknologi turut membawa tantangan terhadap keberlangsungan penggunaan bahasa daerah, terutama di kalangan generasi muda.

Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian bersama agar bahasa ibu tidak semakin ditinggalkan dan kehilangan tempat dalam kehidupan sehari-hari.

"Bahasa ibu merupakan warisan budaya yang sangat berharga. Oleh karena itu, Festival Tunas Bahasa Ibu menjadi momentum penting untuk menumbuhkembangkan kembali kecintaan terhadap bahasa daerah," tegas Hj. Permana Sari.

Ia juga menekankan bahwa pemahaman mengenai pentingnya bahasa daerah harus ditanamkan sejak dini, tidak hanya kepada peserta didik, tetapi juga kepada para guru dan seluruh unsur pendidikan.

Melalui kegiatan ini, para pelajar diharapkan semakin mengenal kekayaan bahasa daerah, memiliki kebanggaan terhadap identitas budaya sendiri, serta mampu meneruskan warisan leluhur kepada generasi berikutnya.

Pemerintah Kabupaten Barito Selatan melalui Dinas Pendidikan diharapkan terus memperkuat pembinaan dan pengembangan bahasa daerah melalui lingkungan sekolah maupun kegiatan kebudayaan yang melibatkan masyarakat.

Festival yang berlangsung selama dua hari tersebut menjadi salah satu upaya strategis untuk memastikan bahasa ibu tetap dikenal, dipelajari, dan diwariskan, sehingga tidak tergerus oleh perubahan zaman.

Pelestarian bahasa daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan tenaga pendidik, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat demi menjaga kekayaan budaya dan jati diri bangsa.

ML

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama