Kepala BPBD Barito Selatan, Agus In’Yulius, S.T., M.T., menyampaikan bahwa karhutla tidak hanya merusak lingkungan dan mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan manusia serta ekosistem hayati. Petugas gabungan dari BPBD, TNI-Polri, Satpol PP, Manggala Agni, dan unsur terkait terus melakukan pemadaman serta pendinginan di sejumlah titik kebakaran. Agus berharap dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan pemerintah pusat semakin diperkuat agar penanganan bencana dapat berjalan maksimal.
Data kesehatan yang dipaparkan Direktur RSUD Jaraga Sasameh Buntok, dr. Dadang Baskoro Nugroho, Sp.PD., FINASIM, menunjukkan kasus ISPA di sejumlah puskesmas mencapai 953 kasus pada Juli, meningkat menjadi 1.295 kasus pada Agustus, kemudian 1.143 kasus pada September. Sementara itu, selama 1–15 Oktober 2026, tercatat 655 kasus. Angka tersebut menunjukkan bahwa gangguan pernapasan masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius di tengah berlangsungnya karhutla.
Dampaknya juga terlihat dari pemanfaatan layanan rumah oksigen di Jalan Pembangunan. Sepanjang September, layanan tersebut menangani 126 orang, sedangkan pada 1–15 Oktober tercatat 122 orang. Pihak RSUD menjelaskan bahwa pasien dengan gangguan pernapasan berat akan dirujuk ke rumah sakit untuk memperoleh pemeriksaan dan penanganan lanjutan, terutama jika ditemukan indikasi gangguan paru-paru atau pneumonia yang membutuhkan perawatan intensif.
Jumlah pasien rawat inap yang dilaporkan turut memperlihatkan beban pelayanan kesehatan. Pada Juli tercatat 110 pasien, Agustus 114 pasien, September 136 pasien, dan Oktober sebanyak 22 pasien hingga 15 Oktober. Dalam konferensi pers itu, pihak rumah sakit juga menyampaikan adanya pasien balita yang mengalami pneumonia serta seorang pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) yang menjalani pemeriksaan dan rontgen. Informasi mengenai pasien meninggal dunia disampaikan dalam pemaparan, tetapi hubungan langsung antara kematian dan karhutla tetap memerlukan konfirmasi medis resmi.
Sementara itu, Kepala BPBD Barsel menyebut angka hotspot mencapai 4.965 berdasarkan data yang dipaparkan dalam konferensi pers. Periode pencatatan dan cakupan wilayah angka tersebut masih perlu diperjelas. BPBD bersama KPHL, KPHP, dan unsur terkait mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan maupun melakukan kegiatan yang berpotensi memicu kebakaran. Partisipasi warga dinilai penting untuk mencegah munculnya titik api baru dan mengurangi dampak kabut asap terhadap kehidupan sehari-hari.
Melihat luasnya dampak yang ditimbulkan, muncul harapan agar pemerintah provinsi dan pusat mempertimbangkan dukungan penanganan yang lebih besar, termasuk kemungkinan peningkatan status bencana sesuai hasil kajian dan ketentuan yang berlaku. Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap pekat, menggunakan masker yang sesuai, menjaga anak-anak dan kelompok rentan, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas atau keluhan pernapasan yang memburuk.
Karhutla di Barito Selatan bukan lagi sekadar persoalan api yang membakar lahan, melainkan ancaman yang menyentuh kesehatan, lingkungan, dan keselamatan masyarakat. Pemadaman harus berjalan seiring dengan pencegahan, penguatan pelayanan medis, serta dukungan lintas pemerintahan. Di tengah kondisi tersebut, keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci agar kebakaran tidak terus meluas dan dampaknya tidak semakin berat. (ML)
